Tampilkan postingan dengan label Kritik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juli 2013

Perempuan + Amarah = Kekuatan

Analisa Gender pada Lagu Ismail Marzuki

Dewa Made Karang Mahardika
 

Kolase: Dewa Made Karang Mahardika


Diciptakan alam pria dan wanita
Dua makhluk jaya asuhan dewata
 

Ditakdirkan bahwa pria berkuasa
Adapun wanita lemah lembut manja


Wanita dijajah pria sejak dulu
Dijadikan perhiasan sangkar madu


Namun ada kala pria tak berdaya
Tekuk lutut disudut kerling wanita


Saya percaya, bahwa dasar Ismail marzuki tatkala menulis lagu ini berdasarkan intuisinya terhadap teori penciptaan Adam dan Hawa, yang dipercaya sebagai sepasang manusia pertama di muka dunia, seperti yang tersangkut di baris lirik, “Diciptakan alam pria dan wanita, dua makhluk jaya asuhan dewata.” Merunut sejarah jauh ke belakang, peran laki-laki dan perempuan berada dalam kesetaraan. Dengan asumsi naluri hewani bahwa siapapun dan apapun jenis kelaminnya, yang memperoleh sumber nutrisi maka dia yang berhak membagikannya. Tapi asumsi ini juga melihat fakta metode hidup berkelompok yang dilakukan oleh masyarakat pra agrikultur yang sangat mungkin memiliki strategi-strategi dalam pertahanan hidup dan mengolah sumber daya yang dilakukan secara koperatif.

Cikal bakal dominasi laki-laki bermula sejak berlakunya sistem kepemilikan yang ditandai dengan penguasaan lahan-lahan pertanian dari kaum-kaum pencocok tanam oleh kaum pemburu nomaden. Kaum pencocok tanam pula awalnya merupakan bagian dari kelompok-kelompok kecil yang acap berpindah dari satu tempat ke tempat lain mengikuti pola migrasi binatang buruan yang menjadi sumber utama makanan mereka. Krisis ekologi saat itu, yang ditandai dengan kondisi suhu panas dan dingin yang labil alias tidak konstan, menjadi salah satu penyebab kelaparan penghuni awal planet ini. Mereka yang tidak bisa beradaptasi menemui ajal. Sementara, sisanya mesti mencari tempat bernaung yang baru. Adaptasi yang saya maksud disini, beberapa dari kelompok manusia purba pada saat mulai menganalisa alam raya. Menaksir arah perpindahan binatang buruan, mempelajari siklus pertumbuhan tanaman umbi-umbian dan mengatur persediaan makanan termasuk mengurung anak dari binatang buruan. Untuk itu mereka harus menetap di satu tempat. Kemampuan ini juga diringi dengan kemajuan pada alat-alat yang digunakan untuk melakukan perburuan. Dari batu dan kayu, menjadi logam, yang kelak juga menjadi senjata penundukan antar kelompok. Di masa ini, belum terlihat adanya gejala dominasi gender.

Analisa sederhana saya, siapa sangka bahwa dominasi ini justru kelak terbentuk oleh pendefinisian kerja secara seksual yang awalnya merupakan pembagian peran dan tanggung jawab: laki-laki berburu, perempuan menjaga ladang dan memomong anak-anak mereka. Peran domestikasi yang merumuskan formasi gender bermula dari sini. Seperti yang dipaparkan pula oleh John Zerzan dalam esai Patriarki, Peradaban, dan Asal-usul Gender, tentang penundukan yang mula-mula terjadi pada masa agrikultur. Pola ini menjadikan kaum laki-laki lebih memiliki kekuatan secara fisik dibanding kaum perempuan. Awalnya tidak ada masalah. Hingga kebiasaan ini mengakar kuat untuk beberapa masa setelahnya. Terjadi perang antar kelompok untuk menguasai sumber-sumber pertanian. Kaum laki-laki terbunuh, dan perempuan-perempuan mulai dimiliki oleh sang penakluk sebagai budak dan objek seksual. Domestikasi? tentu terus berjalan.

Maka saya berseberang pendapat bahwa perempuan ditakdirkan seperti: “Adapun wanita lemah lembut manja.” Kalaupun acuan Ismail Marzuki melihat kelemahlembutan kaum hawa ini tercipta dari sebuah kebiasaan dalam masyarakat terdahulu dalam pola pembagian kerja dan pada akhirnya menjadi psikologis yang terpakemkan, maka tentu saja baris lirik ini bisa berubah.

Lalu pada baris ini, “Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan perhiasan sangkar madu,” Ismail Marzuki dengan lugas menyampaikan penindasan kaum perempuan dalam frame “kepemilikan” cinta kasih. Kepemilikan dalam bentuk ini yang juga menyulut perang-perang besar semacam Perang Troya, legenda historis klasik (mitologi) Yunani. Yang jadi masalah, penindasan kaum perempuan tidak melulu tentang kisah kasih dengan beragam intrik didalamnya. Tidak pula semata-mata mengenai urusan poligami atau kawin kontrak, berlakunya jam malam dan relasi seksual di atas ranjang, atau juga ia yang menyusup ke dapur dan sumur. Dengan gampang bisa kita lihat perempuan menjadi sasaran empuk para produsen, terutama industri kecantikan — ya itu tadi, supaya: “Namun ada kala pria tak berdaya, tekuk lutut disudut kerling wanita.” Lantas apa nasib kaum perempuan berubah ketika para laki-laki obsesif yang mengejar cinta seorang perempuan membuatkan seribu candi, atau ketika saat kini banyak kaum perempuan mendapat porsi lebih dalam strata sosial seiring wacana kesetaraan gender berada di posisi yang lebih dari sekedar pekerja pabrik dan tenaga kerja asing yang kerap menjadi objek kekerasan seksual?

Ismail Marzuki, atau yang akrab dipanggil Ma’ing, yang di saat-saat itu juga memberi les bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Jerman demi menafkahi keluarganya, dikenal luas sebagai seorang komposer yang melahirkan karya-karya melegenda. Lagu-lagu ciptaannya yang beberapa diantaranya dianggap menggelorakan jiwa para pejuang tempo dulu memberinya predikat pahlawan nasional. Maka siapa yang tak kenal dengan lagu Halo-Halo Bandung — yang meski masih dalam area kontroversi kepenciptaanya — atau lagu Sepasang Mata Bola, atau Selendang Sutera? Kecerdasannya menggubah lagu bisa kita lihat dalam lagu yang sedang kau simak saat ini, Sabda Alam, yang begitu melekat di kepala banyak orang termasuk saya, tentang bagaimana kondisi sosial keperempuanan yang terjadi didepan matanya.

Seperti yang dituturkan oleh putrinya, Rachmi Aziah, bahwa sebagian besar karya-karya Ismail berdekatan dengan segala sesuatu yang terjadi disekitarnya. Dan meskipun mendapat anugerah luar biasa sebagai pahlawan nasional, dan namanya diabadikan oleh Ali Sadikin sebagai nama pusat kesenian dan kebudayaan di Jakarta, putri Ismail Marzuki, perempuan satu-satunya dari dirinya yang tersisa, mesti hidup dalam kenyataan klasik bagi keturunan pejuang negeri ini: hidup serba kekurangan. Dalam sebuah wawancara dengan TV, Rachmi mengatakan bahwa royalti yang biasa diterimanya kini sudah dihentikan, karena karya bapaknya sudah berumur lebih dari lima puluh tahun dan sudah menjadi domain publik.

Melalui Sabda Alam, Ismail Marzuki mencoba mengangkat realita perempuan dimatanya dan dimasanya. Sialnya, dunia modern seringkali melupakan masa-masa di saat laki-laki dan perempuan saling berbagi peran dengan bersama-sama mewujudkan impian bersama. Kalaupun alam mensabda agar perempuan tunduk dalam dominasi laki-laki, maka kita patut melanggarnya, bukan?
Maka percayalah, ini bukan takdir.


Penulis adalah aktivis media alternatif gratis di skena hardcore punk Kota Palembang, yang tertarik pada budaya urban, dadaisme, seni kolase, bir dan radiohead. Saat ini menjadi pewarta ekonomi bagi Majalah Kinerja Bank di Palembang. 

 

 

 



Hidup Mati Itu Sederhana

Pramesthi Ratnaningtyas



The Sick Child, 1896
Oil on canvas
121.5 x 118.5 cm

 
Perempuan yang sudah tidak lagi muda itu mengerutkan dahinya saat mendengar kentut pagi hari yang dibuang suaminya. Pemilik rambut hitam semu putih sebahu itu juga hanya bisa menggelengkan kepala saat melihat suaminya yang kemudian menggaruk pantat saat mengubah posisi tidur usai kentut.

Di kamar tidur berukuran sedang dengan tempat tidur yang terbuat dari besi berwarna hitam itu pula ketakutan dan kematian dari sepasang orangtua itu bermula. Rumah yang menjadi ‘payung’ kehidupan bagi dua insan manusia untuk menghabiskan waktunya. 

Bangunan berkonsep sederhana itu menjadi saksi bisu Tji (Hengky Solaiman) dan Ing (Maria Oentoe) pada film Wan An (dalam bahasa Indonesia berarti selamat malam.red). Film karya mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta dengan sutradara Yandy Laurens ini menghadirkan kisah sepasang orangtua yang mampu melewati hidup bersama di tengah pertikaian politik negara atau problematika ekonomi. Pasangan yang menanggapi situasi sosial, politik dan ekonomi secara sederhana dan santai. 

Film tersebut diputarkan pada Sekolah Kebudayaan Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia di Hotel Bukit Gumati Batu Tulis Bogor, Minggu (21/7). Wan An merupakan film yang meraih tiga penghargaan kategori Film Pendek Favorit  Pilihan Penonton, Film Pendek Fiksi Naratif Pilihan Media, dan Film Pendek Fiksi Naratif Terbaik pada XXI Short Film Festival yang diselenggarakan di Jakarta, 24 Maret 2013.

Tji (Hengky Solaiman) dan Ing (Maria Oentoe) dalam film pendek Wan An

Cerita itu digulirkan begitu apik. Tiba-tiba bisa membuat tertawa, tapi juga tiba-tiba membuat hati penonton tersentuh. Terutama saat Ing tidak bisa tidur karena takut jika salah satu dari mereka tidak bisa membuka mata lagi saat matahari mulai bersinar. Ketakutan yang menjadi nyata saat Tji terbangun dan mendapati Ing tak bernafas. Ekspresi kesedihan dan tangis Tji yang sontak berubah menjadi kemarahan karena Ing tiba-tiba tertawa lantaran Tji tertipu dengan akting Ing yang pura-pura mati.

Kemarahan Tji  membuat Ing merasa bersalah dan selalu meminta maaf. Hingga akhirnya, Tji terkena serangan jantung saat Ing meminta maaf di sela-sela Tji menonton televisi. Kesedihan dan rasa bersalah Ing yang menjadi-jadi terpatahkan saat Tji tiba-tiba tertawa lepas karena aksinya untuk membalas Ing berhasil.

Meskipun Ing marah karena pembalasan tersebut, tapi Tji malah tersenyum saat Ing menekuk wajahnya. Bahkan Tji merasakan masakan yang disajikan Ing menjadi sangat lezat meskipun hanya semangkuk mie dan secangkir teh hangat. Namun, dibalik semua itu Tji juga merasa khawatir dan jengkel saat Ing yang tiba-tiba mogok mencuci. Sama seperti aksi mogok kerja yang menjadi berita dalam siaran televisi berbahasa China.

Kemarahan Ing yang ternyata kembali memicu kemarahan Tji itu juga diperlihatkan saat bermain mahjong bersama rekan mereka, Liem (Ferdinandus Suryono). Ing yang menang saat main mahjong tiba-tiba meninggalkan meja. Membuat Tji ikut marah dengan membuat susunan kartu mahjongnya berantakan.

Tinggalah Liem sendiri, duduk dihadapan secangkir teh yang tidak nikmat. Liem hanya terdiam dan melongo. Bingung. Permainan mahjong tidak lagi membuat ketiganya senang dan tertawa lepas.
Minum teh sendiri seperti yang dialami Liem memang tidak menyenangkan. Mengingat teh adalah media yang biasa dilakukan Tji, Ing dan Liem untuk berbagi cerita usai bermain mahjong. 

Hari berganti hari. Tji dan Ing tidak lagi bergerak dari tempat tidurnya. Rumah sepi tidak ada aktivitas apapun. Tji tidak lagi menikmati teh di pagi hari, membetulkan radio atau menonton televisi yang menjadi rutinitasnya. Ing juga tidak membersihkan rumah atau pun mencuci baju.
Padahal di siang harinya, seperti biasa Liem sudah di depan rumah Tji untuk bermain mahjong. ‘Panggilan’ Liem dari garasi rumah tidak mendapat respon apapun. Ia mengintip di balik garasi untuk melihat adakah kemungkinan Tji atau Ing membuka pintu. Tapi Liem tidak mendapati apapun. Hingga malam menjelang, Tji dan Ing tetap tidak bergerak. Posisi tidur mereka tetap sama.
“Ing, saya sangat lapar,” ujar Tji kepada Ing diikuti tawa keduanya di tempat tidur.
Wan An sendiri memiliki struktur cerita yang terjaga dengan baik dengan sedikit kejutan untuk menggugah rasa penonton. Rangkaian visual yang dominan cukup memberi gambaran tentang perasaan tiga karakter di film itu.

Film ini dihadirkan dalam pencahayaan yang low light untuk menghadirkan realita gelap terang dalam rumah yang minim cahaya matahari. Karakter tokoh di dalamnya juga dilengkapi dengan kostum sewajarnya. Baju agak lusuh dengan wajah keriput.

Pemain beradu akting secara alami. Mungkin memang para pemainnya yang sudah terbilang lanjut usia, sehingga mereka bisa dengan mudah menjiwai karakter dalam film. Make up juga tidak dihadirkan secara berlebihan. Rambut beruban dan kurang rapi menunjukkan bahwa aktivitas tokoh di dalamnya hanya ada di dalam rumah. Sedangkan ekspresi tertawa, sedih, menangis juga nampak natural. Terlihat jelas bagaimana perasaan sang pemain saat ditinggalkan pasangannya.

Tata ruang juga mampu menggambarkan cerita dan karakter tokoh yang merupakan keturunan China. Terlihat dari adanya biskuit Kong Guan di meja makan, adanya tempat pemujaan untuk dewa bumi, serta tulisan China dan Asia yang cukup besar di salah satu bagian lemari es. Diperkuat dengan penggunaan bahasa China saat Tji dan Ing bercakap-cakap, serta siaran televisi berbahasa China. 

Hanya saja ada beberapa bagian yang kurang menarik dari film ini. Letak meja saat bermain mahjong terlihat miring dan sangat mengganggu mata penonton. Belum lagi ada bagian yang jumping pada adegan Ing menuangkan air dari ceret saat Tji terkena serangan jantung. Saat akan memegang ceret, Ing nampak terkejut seolah-olah bahwa ceret itu dalam kondisi panas. Ing lalu mengambil serbet dengan tangan kiri untuk mengurangi panasnya ceret saat menuangkan air. Namun, tangan kanan Ing malah memegang bagian lain dari ceret dengan tangan kosong tanpa ekspresi bahwa ceret itu dalam kondisi yang baru saja dipanaskan.

Selain itu, radio yang sebelumnya sudah dibetulkan dan bisa kembali berfungsi saat Tji marah kepada Ing, tiba-tiba dalam posisi dibongkar saat kamera menggambarkan situasi rumah tanpa aktivitas. Meskipun begitu, editing sederhana dalam film ini mampu merepresentasikan kehidupan Tji dan Ing yang juga sederhana.

Cerita film pendek tersebut semakin sempurna karena didukung lagu ‘Saat Aku Lanjut Usia’ milik Sheila on 7 sebagai soundtrack-nya.
‘Saat aku lanjut usia, saat ragaku terasa tua. Tetaplah kau selalu disini, menemani aku bernyanyi. Saat rambutku mulai rontok. Yakinlah ku tetap setia. Memijit pundakmu hingga kau tertidur pulas. Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu. Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu. Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia. Saat kaki t’lah lemah kita saling menopang. Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati. Sampai jumpa di kehidupan yang lain.’

Begitulah penggalan lirik lagu tersebut. Lagu yang sangat tepat menggambarkan kesyukuran karena bisa tua bersama pasangan hingga akhir hayat. Kesyukuran sampai ingin kembali dipertemukan dalam kehidupan lain.

Lahir, dewasa, tua dan mati. Siklus hidup yang memang harus dijalani sebagian besar manusia. Wajar jika sebagian dari mereka takut untuk menjadi tua dan tiba-tiba tak lagi bernafas. Ketakutan untuk tidak lagi bisa membuka mata usai mengucapkan selamat malam.

Namun, menjadi tua sebenarnya tidak semenakutkan seperti yang dipikirkan sebagian masyarakat. Menjadi tua ternyata juga menyenangkan. Menikmati setiap detik kehidupan bersama pasangan, mulai dari bangun tidur hingga kembali tertidur. Susah senang menjadi rutinitas yang merupakan kesyukuran terbesar atas hidup yang diberikan Tuhan.

Bangun tidur, diawali dengan kesyukuran saat pasangan masih bisa mengentut, merebus air, menyediakan sarapan hingga tertawa dan berbagi cerita bersama. Saling melengkapi dan mengingatkan ketika salah satunya lupa meletakkan barang. Bahkan saling membantu saat mencuci baju dan menjemur pakaian. Rutinitas yang dipenuhi cerita akan keadaan sekitar sambil tertawa dan saling menjaga.



Penulis merupakan wartawan Kedaulatan Rakyat Yogyakarta yang berdomisili di kota yang sama, penggemar anime yang menulis banyak hal seputar lifestyle dan humaniora.




Jumat, 26 Juli 2013

Kisah Para Penonton Dibalik Layar

Dewa Made Karang Karang

"Jangan hanya menjadi penonton, jangan biarkan hidup berlalu begitu saja"--Lou Holtz






Lebih dari satu abad silam, atau tepatnya di tahun 1878, Eadweard James Muybridge, seorang fotografer Inggris yang juga pengelana, untuk kali pertama mengenalkan teknik objek gambar bergerak dengan menggunakan kameranya. Sesungguhnya gambar-gambar itu tidak nyata-nyata bergerak, hanya saja, kecepatan dan akurasi jepretan kameranya mampu membuat 16 frame secara berurutan. Penemuan gambar bergerak inilah yang bisa disebut menginspirasi sebuah potongan film pertama kali di dunia pada satu dekade setelahnya, yakni film yang mendekati apa yang kita kenal seperti sekarang. Cuplikan yang disutradarai oleh Louis Le Prince asal Prancis itu berdurasi 2 detik dan dinamai "Roundhay Garden Scene". Dan pada 1895, dua bersaudara asal Perancis yakni Auguste Marie Louis Nicolas dan Louis Jean yang lebih dikenal sebagai Lumiere bersaudara, mengadakan pemutaran beberapa film produksi mereka di hadapan publik sebagai pemutaran film pertama di dunia.

Film merupakan kombinasi dari tiga media utama yakni yang tidak dapat saling berlepasan yakni kinetograph yang berfungsi sebagai alat perekam gerak, lalu kinetoscope yang berfungsi untuk memproyeksikan gerak, dan phonograph yang berdaya merekam suara. Tahun 1903, sebuah aksi perampokan kereta besar-besaran yang terjadi di Amerika menginspirasi Thomas Edison untuk menulis film berdurasi dua belas menit yang dirilis pertama kali di dunia berjudul "The Great Train Robbery".

Tabir sejarah perfilman Indonesia dibuka dengan film yang diangkat dari legenda Jawa Barat berjudul "Loetoeng Kasaroeng" pada tahun 1926, yang meski merupakan hasil karya pembuat film asal Belanda namun merupakan rilisan komersial pertama yang melibatkan artis Indonesia. Setelah Indonesia merdeka, sebuah film karya Umar Ismail berjudul "Darah dan Doa" pada tahun 1950 menjadi film pertama yang secara resmi diproduksi oleh Perusahaan Film Nasional Indonesia atau Perfini, yang lantas tanggal pertama kali syuting film ini yakni pada 30 Maret 1950 didaulat sebagai Hari Film Nasional.

Di era 70-an perfilman Indonesia diramaikan oleh genre komedi yang kala itu dibintangi oleh Benyamin Sueb dan kawan-kawan yang bersaing ketat dengan film-film drama percintaan yang dirajai oleh Rhoma Irama. Lalu pada era 80-an genre komedi kedatangan pendatang baru yakni Warkop DKI, yang di akhir eranya mesti bersaing dengan film-film laga yang diangkat dari sandiwara radio. Kelatahan para produsen film di Indonesia terhadap selera pasar bisa dilacak dari tren yang mulai terjadi pasca era ini. Sebut saja di pertengahan 90-an mewabah film-film laga dan horor berbalut erotis yang dibintangi artis-artis yang sama di tiap film yang beredar di saat yang nyaris sama pula. Kelatahan paling parah terjadi satu dekade setelahnya, yakni ketika hantu-hantu bergentayangan di layar bioskop dan televisi.

Layaknya siklus kompetisi, produsen dalam industri perfilman di Indonesia berlahiran dan banyak diantaranya yang mati dilahap persaingan. Satu-satunya cara untuk bertahan di masa kritis ini adalah dengan mengambil resiko mengikuti selera pasar yang membosankan. Jalan keluar ini yang lama-kelamaan membawa industri perfilman di Indonesia berputar-putar di ranah cerita yang itu-itu saja, tanpa sadar bahwa bangku terakhir yang tersisa telah ditinggalkan oleh penonton yang memasuki barisan menuju tayangan film-film mancanegara. Lalu lagi-lagi para pembajak film dipersalahkan atas krisis ini. Meski pemberantasan yang dilakukan oleh otoritas terkait tidak lantas mendongkrak penjualan tiket bioskop dan pembelian CD original, karena mutu cerita yang ditawarkan memang begitu menyedihkan.

Film berkembang tidak hanya perpaduan antara seni dan teknologi semata, Ia juga menjadi perpaduan antara ekonomi dan politik normatif. Lalu posisi para seniman pegiat film untuk menghibur para penonton diisi oleh para pengejar keuntungan belaka, yang ternyata justru menghilangkan rempah-rempah penyedap film itu sendiri. Tidak hanya disitu, film-film yang dianggap mengganggu stabilitas negeri pun dilarang beredar meski diramu oleh koki-koki handal, sebagai contoh adalah film-film garapan Garin Nugroho seperti "Daun di atas Bantal" dan "Pasir Berbisik" yang tidak diperbolehkan beredar di masa Orde Baru karena dinilai bertutur terlalu jujur tentang kondisi sosial yang terjadi di Indonesia, atau pelarangan film karya Slamet Raharjo pada tahun 2001 berjudul "Marsinah", karena dianggap menggelitik naluri kritis masyarakat dan mengusik kewibawaan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Dan, bagaimana ketika para penonton mulai mengambil peran untuk berada di balik layar? Keresahan para penggemar film di Indonesia terhadap grasak-grusuk film-film yang berteknik tinggi namun berkualitas cerita rendah, melahirkan film-film independen atau indie, baik berdurasi singkat maupun sebaliknya. Ini adalah salah satu metode alternatif yang dikembangkan oleh para penggemar film yang lelah oleh rasa bosan menjadi penonton. Dengan modal semampunya, kemampuan seadanya dan fasilitas sedapatnya, berlahiran karya-karya hebat penuh kejutan yang berupaya keluar dari gagasan-gagasan standar. Disini para penonton dapat berkesperimen dalam mematerialkan keinginan-keinginan mereka dengan konsep kemandirian. Penonton memiliki kebebasan untuk menafsirkan sepuasnya, mempunyai kebebasan untuk mempertanyakan tanpa perlu orang lain mejawabnya. Keberagaman lahir dari sini. Dengan begitu, wacana kekhasan para sineas indie sulit untuk dilacak dan dipetakan. Semoga saya tidak keliru.



Penulis adalah aktivis media alternatif gratis di skena hardcore punk Kota Palembang, yang tertarik pada dadaisme, seni kolase, bir dan radiohead. Saat ini menjadi pewarta ekonomi bagi Majalah Kinerja Bank di Palembang.