Tampilkan postingan dengan label event. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label event. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 September 2013

Mozaik Iwan Kurniawan Lewat ‘Rontaan Masehi’



PERSOALAN sosial dan kondisi bangsa tak lepas dari pengamatan penyair Iwan Kurniawan. Ia mampu menuangkan imajinasinya untuk diabadikan menjadi karya-karya bermakna yang mampu merasuki jiwa pembaca.

Lelaki kelahiran Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, itu baru saja mengeluarkan buku kumpulan puisi keduanya "Rontaan Masehi". Puisi-puisinya banyak bercerita tentang kerinduan pada ‘Ibu’, pemberontakan atas kehidupan yang tak hidup, dan kecemasan tentang kondisi sosial di negeri ini.

Tanah rantau yang menawarkan aneka warna dan keglamoran pun tak lantas membuat dia lupa kampung halaman. Terutama, pada tanah leluhur yang penuh dengan harum cendana, cengkeh, hingga bau bebatuan. Kondisi ini justru semakin mematangkannya dalam menerjemahkan kata kebangsaan dalam bait-bait sajaknya.

Dengan kata lain, sajak-sajak Iwan adalah kata religiusitas, kata kerinduan, kata perjalanan, dan kata kecemasan akan kebangsaan yang masih belum sejalan dengan harapan. Penyair yang dulu pernah berambut gondrong ini juga tak jarang bersitegang dengan keadaan. Dia mampu untuk berkompromi dengan batin, meski gelisah tak kunjung sudah.


Iwan yang juga bekerja sebagai jurnalis seni budaya Harian Umum Media Indonesia pun menebus segala ide dan tafsir misteri. Ia menuliskan segala sesuatunya dalam bebait kata yang disebut puisi.

Penyair ini menamatkan pendidikan sarjananya di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat. Buku kumpulan puisi perdananya diterbitkan semasa kuliah, yaitu “Tapisan Jemari” (2005).

Kini, untuk menjaga daya literer dan kepekaan batinnya, dia tetap berkarya. Bisa jadi, dengan bersajak segala rasa kerinduan hingga kecemasan terhadap kondisi sosial bisa sedikit terlunaskan lewat puisi.

Sastrawan kawakan Gerson Poyk menilai puisi-puisi Iwan adalah tentang berbagai hal dalam mozaik kehidupan. Ada absurditas, ada kritik sosial, ada kerinduan. Semuanya diramu dengan pergolakan dan pergulatan batin yang tak kenal kata akhir. 
“Absurditas kehidupan menjadi cermin betapa kehampaan dan kefanaan selalu menyertai di mana pun kita berada,” ujar peraih hadiah sastra ASEAN, Sea Write Award (1989), itu. 

Gerson juga menyoroti beberapa sajak dalam buku kumpulan puisi “Rontaan Masehi”. Semisal sajak berjudul ‘Hampir Maut’: kau menatap jauh//suara gitar menembus balik beranda//sahabat dan perjuangan menghilang selepas kereta kencana//pertemuan lautan embun dan suara semampai dedaunan//kau menatap jauh//menanti seorang lahir baru di kening mazmur//.

“Diksi yang Iwan hadirkan sangat bagus. Ia mampu menghadirkan pemikiran yang orisinalitas dan autentik. Ini yang jarang dimiliki penyair muda sekarang ini,” ujar Gerson yang juga memberikan testimoni dalam buku setebal 98 itu. 

Tak hanya itu, ada pula sajak berjudul ‘Pulang’: aku pulang, Ibu//deru kota berputar dengan taring-taring tinggi//ada tongkat menikam dalam tanah//memandang angkuh pada langit//aku pulang, Ibu//seonggok perasaan begitu lelah//bendera-bendera kusam//terseret angin jahat//aku pulang, Ibu//ingin kucium aroma cendana di lehermu//.  

“Dengan segala upaya dalam proses kreatifnya, di antara dua dunia yang digelutinya yaitu jurnalistik dan sastra, Iwan mampu menghadirkan oase, Buku kumpulan ini memang laik dibaca,” jelas Kepala Pelaksana Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin Ariany Isnamurti.

Buku kumpulan puisi “Rontaan Masehi” telah dihelat pada, Jumat 20 September 2013 lalu di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS), H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.
Buku itu terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berisi 29 judul puisi. Sedangkan pada bagian kedua terhimpun 34 judul puisi. 



Iwan Kurniawan
Jurnalis seni budaya Media Indonesia










Senin, 16 September 2013

Frans Ekodhanto dalam Kelana Anak Rantau




 Sebagai penyair muda, Frans Ekodhanto Purba semakin menunjukan eksistensinya dalam dunia kepenyairan di Indonesia. Ia berhasil merampungkan kumpulan puisi tunggal berjudul “Kelana Anak Rantau”.

Buku yang memuat 62 puisi itu terdiri dua bab. Bab pertama bertajuk Mazmur Perjalanan berisi 32 puisi, dan bab kedua (Hikayat Kehidupan) berisi 30 sajak. Semua sajak dibuat dalam kurun waktu 2010-2013 dan tempat penulisan yang berbeda-beda.

“Kelana Anak Rantau” adalah buku puisi tunggal pertamanya. Frans mencoba untuk tak menyebutkan tempat pembuatan puisi. Pasalnya, ia tak mau mengikuti kebanyakan penyair yang selalu menonjolkan lokasi penulisan sebagai sebuah ‘kesombongan’ atau ‘keakuan’ penyair. Ia mengubah semua tempat dengan sebuatan ‘Kereta subuh’.

“Saya membebaskan kepada setiap orang untuk menapsir karya saya secara bebas. Dalam puisi-puisi, saya banyak berbicara tentang perjalanan hidup. Sebuah kelana akan menjadi sebuah pengembaraan untuk mencapai sebuah tujuan akhir,” ujar Frans dalam sebuah perbincangan bersama beberapa wartawan kebudayaan di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (29/8/2013).

Frans lahir di Desa Sei Suka Deras, Sumatra Utara (Sumut), 8 Juli 1986. Berasal dari keluarga sederhana, tumbuh dan besar di Medan, ibu kota Sumut. Menamatkan pendidikan di program S1 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat (lulus 2010).

Ia mulai mengenal dan menyukai puisi semasa sekolah menengah pertama, kemudian memantapkannya di bangku perkuliahan dan organisasi-organisasi kemahasiswaan. Semasa kuliah, sajak-sajaknya pernah termaktub dalam sejumlah media massa lokal (daerah) dan nasional.

“Semua pengalaman yang saya alami, saya tuangkan dalam puisi-puisi. Ada tentang cinta, kritik sosial, dan kerinduan akan ibu di kampung halaman sana,” jelas lelaki yang bekerja sebagai wartawan seni dan budaya di Koran Jakarta itu.

Bicara sajak

Membicarakan Frans, tak bisa dipisahkan soal proses kreatif dan perjalanan hidupnya yang sedikit banyaknya tercermin pada larik, metafor, dan makna sajaknya. Secara harfiah, kata ‘Kelana’ dapat diartikan sebagai sebuah perjalanan atau pengembaraan seseorang pada tempat-tempat tertentu, seperti ke negeri orang atau ke kampung yang baru. Sedangkan kata ‘Rantau’ dapat diterjemahkan sebagai pencarian. Pencarian atas kehidupan, masa depan, harapan, tempat tinggal, serta pencarian-pencarian lainnya.


Dengan kata lain, sajak-sajak Frans yang terkumpul dalam buku puisi "Kelana Anak Rantau" ini merupakan suatu perjalanan yang terus melakukan pencarian yang tak berkesudahan.

Perjalanan yang tak tahu kapan sampainya. Pencarian yang tau tahu kapan temunya. Namun di dalam melakukan kelana tersebut, Frans kerap menemukan hal-hal yang lumrah atau bahkan baru saja ditemukan. Tak hanya itu, ketika melakukan pengelanaan, Frans tak jarang bertemu dengan simpang-simpang mimpi, harapan, kegelisahan, keresahan/kecemasan bahkan kerinduan yang tak habis-habis tentang segala hal. Tak mengherankan, jika membaca kumpulan buku puisinya, pembaca dipertemukan dengan tema-tema cinta dan kerinduan dalam arti yang luas.

Helatan peluncuran

Buku puisi “Kelana Anak Rantau” ini akan diluncurkan dan dibedah di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, pada Jumat, 30 Agustus 2013, pukul 16.00 WIB sampai selesai.

Rencananya, Bambang Subekti (Pimpinan PKJ TIM) dan Radhar Panca Dahana (budayawan) akan membuka acara tersebut. Lalu, akan dibedah oleh dua pembicara Hanna Fransisca (penyair) dan Damhuri Muhammad (cepenis/esais), serta moderator Renggi Putrima (penari dan penikmat sastra).

Sederet seniman akan turut meramaikan dengan berbagai pementasan. Mereka adalah penampilan musikalisasi puisi oleh Iwan Kurniawan (penyair/wartawan), Vukar Lodak (pemusik dan pengamat seni rupa), dan Teater Ghanta UNAS.

Lalu, pembacaan puisi Asrizal Nur (penyair/pembaca puisi multimedia), Sihar Ramses Simatupang (penyair/wartawan), Jose Rizal Manua (penyair/teaterawan), Nana Riskhi Susanti (penyair/wartawan), Andi Bersama (teaterawan), Fermana Manaloe (teaterawan), Idris Brandy (pelukis), Patrick Wowor (pelukis), Syahnagara Ismail (pelukis), Sri Warso Wahono (pelukis), dan performance sketsa Toto BS, serta penampilan-penampilan memukau lainnya. 


                                   

Bedog Arts Festival

























Pada Jum’at-Sabtu, 23-24 Agustus 2013 mendatang, akan digelar Bedog Art Festival (BAF) V di Studio Tari Banjarmili milik Miroto di Kradenan Rt 04/17 Banyuraden Gamping, Sleman Yogyakarta.

Rilis dari panitia BAF V, Minggu (18/8) menjelaskan, tema besar BAF V masih sama dengan gelaran BAF sebelum-sebelumnya yaitu lingkungan. Tema BAF V adalah Seni Seabgai Ekspresi dan Pembentukan Karakter Pemuda.

Penggagas BAF, Miroto mengatakan pelaksanaan BAF2013 lebih matang dari pelaksaan BAF tahun-tahun sebelumnya. Sebab perjalanan BAF selama lima tahun telah menemukan format festival ideal dengan tetap mengusungkan konsep harmoni alam.

BAF V akan menyelenggarakan penghijauan pada sepanjang bantaran sungai dengan menanam jenis tanaman Aren. Di pilihnya tanaman Aren berdasarkan pengamatan dan pengalaman penyelenggaraan penghijauan tahun sebelumnya.
“Tanaman Aren memiliki karakter yang sesuai dengan struktur tanah disepanjang sungai,” kata Miroto.

BAF 2013 akan menampilkan pertunjukan seni tari kontemporer juga seni shalawatan, seni silat dan juga wayang kulit purwa. Selain menampilkan seniman Indonesia, BAF 2013 juga menghadirkan seniman Jepang, China, Taiwan, Australia, Irlandia, dan Amerika Serikat.

Dari Jepang akan hadir Katsura Kan. Seniman China akan datang Du Yufang, Shui Hui Huang (Taiwan), Tony Yap (Australia), Brendan O'connor (Irlandia), serta Kun Yang Lin (Amerika Serikat).

Seniman Indonesia yang terlibat dalam BAF V adalah Miroto dan Mila Rosita (Yogyakarta), Ratnawati (Indramayu), Pradapa Loka Bhakti (Pacitan), Vera (Riau), Usman Najrid (Kalimatan), M-I School (Surabaya).

Sedang bentuk kesenian lain yang akan tampil  dalam BAF V adalah Shalawatan Cokrobedog, Silat Krisna Murti, serta wayang kulit purwa yang akan dipentaskan dalang muda Jogja, Catur “Benyek” Kuncoro.

Hari pertama BAF V, Jum’at (23/8) akan menghadirkan pementasan Shalawatan (Cokrobedog), Pradapa Loka Bhakti (Pacitan), Du Fang (China), Vera (Indonesia), Ratnawati (Indonesia), Kun Yang Lin (Amerika Serikat) , Katsura Kan (Jepang) , Shui Hui Huang (Taiwan) dan Miroto (Indonesia).



Selasa, 30 Juli 2013

Upacara Tiwah

Jazzchy Dayun Marie


Upacara Tiwah adalah upacara terakhir umat Karahingan di Kalimantan Tengah






Foto: Jazzchy Dayun Marie

Upacara ini wajib dilakukan bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga yang sudah meninggal, terkecuali yang berusia di bawah lima tahun, tetap diikutkan pada tiwah tanpa syarat





Lebih dikenal sebagai Jazzchy Dayun Marie, wartawan Harian Radar Sampit yang menyukai fotografi, menulis, teater, dan travelling.